Selamat datang di pelatihan Mass Communication. Di era informasi yang bergerak secepat kilat seperti sekarang, kemampuan menyampaikan pesan secara luas, tepat, dan berdampak menjadi kebutuhan mendesak bagi setiap perusahaan. Komunikasi massa bukan lagi sekadar menyebarkan informasi kepada khalayak, melainkan seni dan strategi menyusun pesan yang mampu menggerakkan opini publik, membangun citra, hingga memengaruhi perilaku audiens secara positif. Inilah sebabnya, pemahaman dan penguasaan mass communication menjadi kompetensi krusial bagi perusahaan modern, terlebih di tengah maraknya saluran informasi yang kian beragam—mulai dari televisi, radio, media cetak, hingga platform digital dan media sosial.

Pelatihan Mass Communication ini termasuk dalam materi pelatihan Kehumasan & Public Relation, yang dirancang khusus untuk menjawab tantangan tersebut. Peserta akan diajak memahami ruang lingkup komunikasi massa dalam konteks korporasi, termasuk bagaimana perusahaan bisa menyampaikan pesan yang selaras dengan nilai, misi, dan tujuan bisnisnya. Selain itu, pelatihan ini juga membahas urgensi penguasaan keterampilan komunikasi massa, serta mengidentifikasi peluang dan tantangan dalam proses penyampaian informasi kepada publik melalui media massa.
Tidak berhenti di teori, peserta juga akan mempelajari bagaimana merancang dan mengevaluasi pesan, menggali ide-ide kreatif, dan mengintegrasikan strategi komunikasi dengan psikografis masyarakat yang menjadi target audiens. Beragam jenis media—seperti televisi, radio, koran, dan majalah—akan dibedah secara mendalam untuk memahami spesifikasi pesan yang tepat di masing-masing saluran tersebut.
Dengan pendekatan yang praktis dan aplikatif, pelatihan ini akan membantu perusahaan dan para profesional komunikasi dalam membangun komunikasi massa yang efektif, berdampak, dan relevan dengan kebutuhan zaman. Mari siapkan strategi komunikasi Anda agar mampu berbicara kepada publik dengan suara yang kuat, jelas, dan meyakinkan.
APA YANG AKAN ANDA PELAJARI?
- Ruang lingkup komunikasi massa (mass communication) bagi perusahaan.
- Urgensi penguasaan ketrampilan komunikasi massa (mass communication) bagi perusahaan.
- Peluang dan tantangan penyampaian informasi dengan media masa.
- Faktor-faktor keberhasilan dan kegagalan komunikasi massa (mass communication).
- Mengdentifikasi, merancang dan mengevaluasi pesan melalui massa.
- Mengintegrasikan pesan perusahaan dengan psikografis masyarakat.
- Menggali ide kreatif dalam pengemasan pesan di berbagai media massa.
- Spesifikasi pesan dalam berbagai tipe saluran informasi (Televisi, radio, majalah, koran, dan lain-lain).
- Studi kasus & Praktek
TUJUAN & MANFAAT PELATIHAN
- Peserta pelatihan mampu memahami tentang pentingnya pengelolaan komunikasi massa (mass communication) di era informasi.
- Peserta pelatihan mampu meningkatkan kecakapan teknis dalam merancang strategi komunikasi massa (mass communication) yang efektif dan lebih maju dari pada kompetitor.
- Peserta pelatihan mampu meningkatkan ketrampilan dalam menyampaikan pesan perusahaan kepada masyarakat umum melalui media massa.
- Peserta pelatihan mampu meningkatkan pemahaman mengenai teknik komunikasi massa (mass communication) yang efektif.
TARGET PESERTA PELATIHAN
- Manajer Humas atau PR
- Staff Humas atau PR
- Semua pihak yang membutuhkan pengetahuan seputar Mass Communication
METODE PELATIHAN
- Penyampaian konsep
- Diskusi kelompok
- Latihan
- Studi kasus
JADWAL PELATIHAN MASS COMMUNICATION
- 22-23 Januari 2025
- 3-4 Februari 2025
- 17-18 Maret 2025
- 28-29 April 2025
- 7-8 Mei 2025
- 19-10 Juni 2025
- 28-29 Juli 2025
- 25-26 Agustus 2025
- 10-11 September 2025
- 27-28 Oktober 2025
- 24-25 November 2025
- 1-2 Desember 2025
BIAYA PELATIHAN
Pelatihan Mass Communication Public
Biaya Public Training silahkan hubungi kami.
Durasi pelatihan : 2 hari.
Catatan :
- Harga diatas adalah harga untuk public training di Yogyakarta.
- Biaya pelatihan sudah termasuk ruang pelatihan di hotel beserta perlengkapan pelatihan, makan siang, coffee break 2x, modul materi, sertifikat, training kit dan souvenir.
- Biaya belum termasuk transportasi dan akomodasi (penginapan) peserta pelatihan.
- Biaya sudah termasuk biaya pajak.
- Untuk permintaan materi custom (yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta) atau in house training dapat menghubungi kami di sini.
Pelatihan Mass Communication Online
Biaya Online Training silahkan hubungi kami.
Durasi pelatihan : 2 hari.
Catatan:
- Harga diatas adalah harga untuk online training.
- Pelatihan online menggunakan media Zoom Meeting atau media lainnya sesuai kebutuhan.
- Biaya pelatihan sudah termasuk Softcopy materi pelatihan, rekaman video pelatihan & Sertifikat pelatihan.
- Biaya sudah termasuk biaya pajak.
- Untuk permintaan materi custom (yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta) atau in house training dapat menghubungi kami di sini.
5 Kesalahan Fatal dalam Praktik Mass Communication yang Harus Dihindari Humas
Dalam dunia kehumasan yang dinamis, peran Mass Communication menjadi ujung tombak dalam menyampaikan pesan kepada publik. Tidak hanya berfungsi untuk membangun citra positif, komunikasi massa juga menjadi alat strategis dalam menjaga reputasi organisasi atau perusahaan. Dalam era digital yang serba cepat ini, informasi dapat menyebar luas dalam hitungan detik. Oleh karena itu, humas dituntut untuk memahami dan mengelola komunikasi massa dengan cermat dan profesional.
Mass Communication berbeda dengan komunikasi interpersonal. Dikutip dari wikipedia.org, komunikasi massa melibatkan media seperti televisi, radio, surat kabar, hingga platform digital seperti media sosial. Skalanya luas, audiensnya beragam, dan dampaknya bisa besar. Itulah sebabnya, kesalahan dalam praktik komunikasi massa dapat menimbulkan konsekuensi serius, mulai dari kesalahpahaman hingga krisis reputasi.
Di sinilah pentingnya memahami kesalahan-kesalahan yang kerap terjadi dalam praktik Mass Communication. Artikel ini akan membahas lima kesalahan fatal yang harus dihindari humas agar pesan yang disampaikan tepat sasaran, tidak menimbulkan kontroversi, dan mendukung citra positif organisasi.
1. Mengabaikan Segmentasi Audiens dalam Strategi Mass Communication
Salah satu kesalahan paling umum dalam praktik Mass Communication adalah tidak memperhatikan segmentasi audiens. Banyak praktisi humas yang menyampaikan pesan secara general, tanpa mempertimbangkan siapa yang menerima informasi tersebut. Padahal, setiap kelompok audiens memiliki karakteristik, preferensi, dan kebutuhan komunikasi yang berbeda.
Contohnya, pesan yang ditujukan untuk masyarakat umum tentu berbeda dengan pesan yang ditujukan kepada investor atau mitra bisnis. Gaya bahasa, media yang digunakan, bahkan waktu penyampaian bisa sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pesan yang dikomunikasikan. Jika segmentasi diabaikan, pesan yang seharusnya membangun justru bisa menjadi bumerang.
Humas harus mampu melakukan riset mendalam tentang audiens mereka. Siapa mereka? Apa yang mereka butuhkan? Bagaimana mereka mengonsumsi informasi? Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, strategi komunikasi massa akan lebih terarah dan efektif.
2. Konten Mass Communication yang Tidak Sesuai Nilai dan Budaya Masyarakat
Dalam praktik Mass Communication, sensitivitas budaya dan nilai-nilai lokal sangat penting. Banyak kasus kegagalan komunikasi terjadi karena konten yang dianggap menyinggung, tidak pantas, atau bertentangan dengan norma sosial di suatu komunitas. Kesalahan ini bisa membuat citra organisasi tercoreng, bahkan memicu boikot publik.
Sebagai contoh, beberapa iklan atau kampanye media yang terlihat menarik secara visual ternyata gagal karena tidak sesuai dengan budaya lokal. Hal ini menandakan pentingnya riset budaya sebelum menyusun konten komunikasi massa. Sebuah pesan yang sukses di satu wilayah belum tentu bisa diterima di wilayah lain.
Humas harus memahami konteks sosial dan budaya target audiens. Ini bukan sekadar soal bahasa, tapi juga simbol, warna, dan narasi. Kesesuaian konten dengan nilai-nilai masyarakat akan meningkatkan kepercayaan dan koneksi emosional dengan audiens.
3. Tidak Konsisten dalam Menyampaikan Pesan Mass Communication
Konsistensi adalah kunci dalam membangun persepsi publik melalui Mass Communication. Sayangnya, banyak organisasi yang menyampaikan pesan berbeda di berbagai kanal media. Misalnya, informasi di media sosial berbeda dengan yang tertulis di siaran pers, atau ucapan juru bicara bertentangan dengan konten website resmi.
Ketidakkonsistenan ini bisa membuat publik bingung, bahkan menurunkan tingkat kepercayaan terhadap organisasi. Dalam komunikasi massa, setiap kanal harus saling mendukung dan memperkuat pesan inti yang ingin disampaikan. Itulah mengapa strategi komunikasi terpadu (integrated communication) sangat penting diterapkan.
Humas perlu memastikan bahwa setiap pesan yang keluar dari organisasi mengandung unsur yang seragam: tone, narasi, dan tujuan. Ini bisa dilakukan dengan membuat pedoman komunikasi internal dan melakukan evaluasi berkala terhadap semua media komunikasi yang digunakan.
4. Mengabaikan Feedback dan Respons Publik terhadap Mass Communication
Komunikasi massa yang efektif tidak hanya soal menyampaikan pesan, tetapi juga mendengarkan. Salah satu kesalahan fatal dalam Mass Communication adalah mengabaikan feedback atau respons dari publik. Padahal, dalam era digital saat ini, audiens tidak hanya sebagai penerima pesan, tetapi juga sebagai pemberi opini dan penilai.
Sering kali, organisasi hanya fokus pada penyebaran informasi, tanpa memperhatikan apa yang dikatakan audiens di media sosial, forum, atau kolom komentar. Akibatnya, terjadi kesenjangan antara persepsi internal dan ekspektasi publik. Ini bisa berujung pada ketidakpuasan atau bahkan krisis kepercayaan.
Humas harus aktif memonitor dan menganalisis tanggapan dari publik. Gunakan alat seperti media monitoring, survei, atau analitik media sosial untuk mengetahui sentimen masyarakat. Dengan mendengarkan publik, organisasi bisa memperbaiki strategi komunikasi dan menjaga hubungan baik dengan audiensnya.
5. Krisis yang Memburuk karena Gagal dalam Pengelolaan Mass Communication
Dalam situasi krisis, Mass Communication menjadi senjata utama untuk menenangkan publik dan menjaga stabilitas reputasi. Sayangnya, banyak organisasi gagal mengelola komunikasi saat krisis, baik karena terlambat merespons, tidak transparan, atau menyampaikan pesan yang membingungkan.
Salah satu contoh nyata adalah ketika perusahaan mengalami isu besar dan memilih untuk diam. Ketika organisasi tidak segera memberikan klarifikasi, publik akan mengisi kekosongan informasi dengan asumsi dan spekulasi negatif. Ini justru memperburuk situasi dan memperbesar dampak krisis.
Penting bagi humas untuk memiliki rencana komunikasi krisis yang jelas. Siapa yang harus bicara? Apa yang harus disampaikan? Melalui media apa? Dengan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini, komunikasi massa saat krisis akan lebih terarah dan mampu meminimalkan kerusakan reputasi.
Tips Praktis: Meningkatkan Kualitas Praktik Mass Communication di Lingkup Humas
Setelah memahami kesalahan-kesalahan umum dalam praktik Mass Communication, penting bagi humas untuk mengambil langkah preventif agar tidak mengulang kesalahan yang sama. Salah satu cara efektif adalah dengan membuat checklist komunikasi massa yang mencakup: identifikasi audiens, kesesuaian pesan, konsistensi antar media, dan kesiapan menghadapi respons publik.
Gunakan alat bantu digital seperti Hootsuite, Google Trends, atau Mention untuk memantau percakapan publik dan tren yang sedang berkembang. Dengan teknologi ini, humas dapat merancang strategi komunikasi yang lebih presisi dan responsif.
Jangan lupa, pelatihan rutin untuk tim humas sangat penting. Dalam dunia yang terus berubah, kemampuan beradaptasi dan menguasai teknik komunikasi terbaru menjadi nilai tambah. Pelatihan komunikasi krisis, storytelling, hingga komunikasi visual dapat meningkatkan kualitas pesan yang disampaikan kepada publik.
Praktik Mass Communication yang tidak tepat bisa berakibat fatal bagi reputasi dan kredibilitas organisasi. Dari mengabaikan segmentasi audiens hingga kegagalan merespons krisis, setiap kesalahan menyimpan potensi risiko yang besar. Namun, dengan kesadaran dan pemahaman yang tepat, semua kesalahan ini bisa dihindari.
Humas harus menjadi pihak yang paling memahami karakter publik dan bagaimana menyampaikannya secara efektif melalui media massa. Komunikasi yang terstruktur, terarah, dan beretika akan menjadi fondasi kuat dalam membangun hubungan yang harmonis antara organisasi dan masyarakat luas.
Jadi, jika Anda ingin menjadi humas profesional yang mampu mengelola Mass Communication dengan baik, mulailah dengan menghindari lima kesalahan fatal di atas. Terapkan strategi yang tepat, dengarkan publik, dan terus tingkatkan kompetensi diri. Komunikasi yang baik bukan hanya tentang bicara—tapi tentang membangun kepercayaan.
