Home » Pelatihan Fotografi Jurnalistik

Pelatihan Fotografi Jurnalistik

Selamat datang di pelatihan Fotografi Jurnalistik. Di era banjir informasi seperti sekarang, visual bukan hanya pelengkap, tapi justru menjadi salah satu penentu utama dalam menyampaikan pesan secara cepat, jelas, dan berdampak. Dalam konteks jurnalistik, sebuah foto mampu menangkap peristiwa secara utuh hanya dalam satu frame—merekam emosi, menggambarkan suasana, dan memunculkan narasi tanpa harus menggunakan banyak kata. Oleh karena itu, keterampilan dalam fotografi jurnalistik menjadi semakin penting, tidak hanya bagi para jurnalis profesional, tetapi juga bagi siapa pun yang ingin mendokumentasikan peristiwa secara objektif, estetik, dan bermakna.

Pelatihan Fotografi Jurnalistik

Pelatihan ini termasuk dalam materi pelatihan Kehumasan & Public Relation, yang dirancang khusus untuk membekali peserta dengan pemahaman menyeluruh tentang dasar-dasar fotografi, teknik pengambilan gambar yang efektif, serta pemahaman etika dalam konteks jurnalistik. Peserta akan dikenalkan pada berbagai jenis kamera dan cara penggunaannya, memahami komposisi visual yang kuat, serta mengeksplorasi teknik-teknik memotret yang relevan untuk kebutuhan peliputan jurnalistik. Lebih dari sekadar memotret, pelatihan ini juga membimbing peserta untuk mampu membangun konsep dalam sebuah foto jurnalistik, menceritakan kisah yang faktual dan menarik lewat gambar.

Selain itu, peserta akan dilatih bagaimana mengemas hasil foto dengan proses editing yang tetap menjunjung tinggi prinsip kejujuran visual. Di akhir pelatihan, peserta akan terjun langsung ke lapangan untuk mempraktikkan semua materi yang telah dipelajari, sekaligus mengasah insting visual dan kepekaan terhadap momen. Dengan pendekatan yang aplikatif dan penuh wawasan, pelatihan ini diharapkan mampu melahirkan fotografer jurnalistik yang tak hanya piawai secara teknis, tetapi juga bertanggung jawab secara etika dan naratif.

APA YANG AKAN ANDA PELAJARI?

  1. Pengenalan dasar-dasar fotografi
  2. Pengenalan kamera dan penggunaannya
  3. Teknik fotografi dan memahami foto yang baik
  4. Teknik memotret dasar
  5. Pengenalan fotografi jurnalistik dan etika jurnalistik
  6. Teknik membangun konsep fotografi jurnalistik
  7. Teknik editing dan mengemas foto jurnalistik
  8. Praktek

TUJUAN & MANFAAT PELATIHAN

Pelatihan ini akan membahas mengenai Fotografi Jurnalistik. Sehingga diharapkan peserta pelatihan mampu menguasai dasar Fotografi, Komposisi Foto & Teknik Memotret, mampu memahami konseptualisasi fotografi jurnalistik, mampu memenuhi kebutuhan penyampaian pesan / informasi melalui fotografi, mampu memahami konteks produksi foto dalam kerangka alat komunikasi, mampu mengaplikasikan pemilihan dan pembingkaian foto, mampu melakukan editing hasil fotografi yang dibuat sendiri serta peserta mampu menyerap aneka pengalaman dan kiat jitu menghasilkan foto layak lomba dan juga bahkan layak-pameran.

TARGET PESERTA PELATIHAN

  • Manajer Humas atau Public Relation
  • Staff Humas atau Public Relation
  • Semua elemen di perusahaan yang memiliki tugas mendokumentasikan dan mempublikasikan kegiatan
  • Semua pihak yang membutuhkan pengetahuan seputar Fotografi Jurnalistik

METODE PELATIHAN

  • Penyampaian konsep
  • Diskusi kelompok
  • Latihan
  • Studi kasus

JADWAL PELATIHAN FOTOGRAFI JURNALISTIK

  • 20-21 Januari 2025
  • 12-13 Februari 2025
  • 5-6 Maret 2025 
  • 23-24 April 2025 
  • 26-27 Mei 2025 
  • 4-5 Juni 2025 
  • 30-31 Juli 2025 
  • 20-21 Agustus 2025 
  • 10-11 September 2025 
  • 27-28 Oktober 2025 
  • 19-20 November 2025 
  • 29-30 Desember 2025

BIAYA PELATIHAN

Pelatihan Fotografi Jurnalistik Public

Biaya Public Training silahkan hubungi kami.

Durasi pelatihan : 2 hari.

Catatan :

  1. Harga diatas adalah harga untuk public training di Yogyakarta.
  2. Biaya pelatihan sudah termasuk ruang pelatihan di hotel beserta perlengkapan pelatihan, makan siang, coffee break 2x, modul materi, sertifikat, training kit dan souvenir.
  3. Biaya belum termasuk transportasi dan akomodasi (penginapan) peserta pelatihan.
  4. Biaya sudah termasuk biaya pajak.
  5. Untuk permintaan materi custom (yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta) atau in house training dapat menghubungi kami di sini.

Pelatihan Fotografi Jurnalistik Online

Biaya Online Training silahkan hubungi kami.

Durasi pelatihan : 2 hari.

Catatan:

  1. Harga diatas adalah harga untuk online training.
  2. Pelatihan online menggunakan media Zoom Meeting atau media lainnya sesuai kebutuhan.
  3. Biaya pelatihan sudah termasuk Softcopy materi pelatihan, rekaman video pelatihan & Sertifikat pelatihan.
  4. Biaya sudah termasuk biaya pajak.
  5. Untuk permintaan materi custom (yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta) atau in house training dapat menghubungi kami di sini.

10 Teknik Dasar Fotografi Jurnalistik yang Wajib Dikuasai Pemula

Di zaman serba cepat ini, visual punya kekuatan luar biasa untuk menyampaikan cerita. Salah satu bentuk visual yang punya nilai informasi tinggi adalah fotografi jurnalistik. Kalau kamu pernah melihat foto demonstrasi, bencana alam, atau peristiwa olahraga di media, itulah hasil kerja jurnalis foto. Mereka nggak cuma jago motret, tapi juga punya kepekaan terhadap momen, emosi, dan nilai berita. Artikel ini akan membahas 10 teknik dasar fotografi jurnalistik yang wajib kamu kuasai kalau ingin jadi fotografer jurnalistik yang andal.

Pengertian Fotografi Jurnalistik

Fotografi jurnalistik dikutip dari stevenrooneyphotography.com, adalah bentuk fotografi yang bertujuan untuk merekam peristiwa nyata dengan pendekatan dokumenter. Fokusnya adalah menyampaikan fakta lewat gambar, tanpa manipulasi yang mengubah makna sebenarnya. Foto jurnalistik sering digunakan dalam berita, majalah, dan media online untuk mendukung narasi teks dan memberikan dimensi visual yang lebih kuat.

Berbeda dari foto komersial atau potret biasa, fotografi jurnalistik menuntut kecepatan, akurasi, dan kejujuran visual. Fotografer jurnalistik harus siap menangkap momen penting yang bisa jadi hanya berlangsung dalam hitungan detik.

Media massa sangat mengandalkan visual untuk menarik perhatian pembaca. Sebuah gambar yang kuat bisa menyampaikan informasi lebih cepat dan lebih emosional daripada seribu kata. Di sinilah fotografi jurnalistik berperan besar. Tanpa foto, berita terasa kurang hidup dan kehilangan konteks.

Foto jurnalistik juga membantu membangun kredibilitas media. Ketika sebuah peristiwa dilaporkan dengan gambar yang akurat dan bermakna, pembaca lebih percaya pada informasi yang disampaikan. Jadi, bisa dibilang, fotografer jurnalistik adalah ujung tombak kredibilitas visual dalam jurnalisme.

Perbedaan Fotografi Jurnalistik dengan Jenis Fotografi Lainnya

Salah satu perbedaan utama antara fotografi jurnalistik dan jenis fotografi lainnya adalah prinsip kejujuran. Foto jurnalistik tidak boleh diedit secara berlebihan atau dimanipulasi. Misalnya, menghapus objek di latar belakang atau menambahkan efek dramatis yang tidak mencerminkan kenyataan adalah hal yang dilarang.

Selain itu, fotografi jurnalistik harus memenuhi unsur nilai berita. Beda dengan fotografi fashion atau wedding yang lebih menekankan estetika dan gaya, jurnalis foto dituntut untuk mengabadikan momen yang bermakna, meskipun kadang tidak sempurna secara teknis.

Untuk menghasilkan karya yang kuat dan autentik, seorang fotografer jurnalistik perlu menguasai teknik-teknik dasar yang menjadi fondasi utama dalam bercerita lewat gambar. Tanpa teknik yang tepat, momen penting bisa kehilangan maknanya, dan pesan yang ingin disampaikan pun bisa meleset. Nah, berikut ini adalah 10 teknik dasar fotografi jurnalistik yang wajib dipelajari oleh pemula agar mampu menangkap realitas secara tajam dan bermakna.

1. Memahami Nilai Berita dalam Fotografi Jurnalistik

Apa itu nilai berita (news value)

Nilai berita adalah ukuran seberapa penting atau menarik suatu peristiwa untuk diliput. Dalam fotografi jurnalistik, kamu harus punya kepekaan terhadap peristiwa yang layak diberitakan. Misalnya, momen kebakaran besar, pemilihan umum, atau aksi kemanusiaan memiliki nilai berita tinggi.

Seorang fotografer jurnalistik harus tahu mana momen yang punya dampak besar untuk publik. Nilai berita ini meliputi faktor seperti kedekatan geografis, dampak, konflik, ketokohan, dan hal-hal luar biasa lainnya.

Bagaimana memilih momen yang layak diberitakan secara visual

Kamu harus cepat membaca situasi. Misalnya, dalam demonstrasi, jangan hanya memotret kerumunan, tapi tangkap ekspresi wajah, aksi aparat, atau spanduk yang menyampaikan pesan. Momen-momen inilah yang membuat foto kamu punya bobot berita.

Kunci utamanya adalah peka dan responsif terhadap kejadian di sekitarmu. Pahami konteks, lalu temukan angle atau bagian peristiwa yang paling "berbicara" secara visual.

2. Komposisi Gambar yang Efektif untuk Fotografi Jurnalistik

Rule of thirds

Rule of thirds adalah teknik dasar dalam komposisi fotografi. Bayangkan bidang foto dibagi menjadi 9 bagian oleh dua garis horizontal dan dua garis vertikal. Titik temu garis-garis ini disebut titik kuat, dan sebaiknya objek utama foto kamu diletakkan di sana.

Dalam fotografi jurnalistik, komposisi ini membantu mengarahkan mata penonton ke bagian paling penting dari gambar. Komposisi yang baik bisa memperkuat pesan visual dan mempermudah pembaca memahami inti berita.

Framing dan leading lines

Framing adalah teknik memanfaatkan elemen di sekitar objek (seperti jendela, pintu, atau bayangan) untuk membingkai subjek utama. Ini membuat foto terasa lebih fokus dan estetik. Sementara leading lines (garis-garis panduan) bisa berupa jalan, pagar, atau bayangan yang mengarahkan pandangan ke objek utama.

Kedua teknik ini penting dalam fotografi jurnalistik karena membantu memperjelas narasi visual dan memberikan konteks tempat kejadian.

3. Penguasaan Pencahayaan Alami

Teknik menggunakan cahaya matahari

Cahaya alami adalah sahabat fotografer jurnalistik. Terutama saat meliput di luar ruangan, kamu perlu tahu bagaimana memanfaatkan cahaya pagi atau sore yang lebih lembut dan hangat. Hindari siang bolong saat cahaya terlalu keras dan menghasilkan bayangan tajam.

Belajar membaca arah dan kualitas cahaya sangat penting. Foto yang diambil dengan pencahayaan alami biasanya terasa lebih jujur dan tidak dibuat-buat.

Menghindari flash agar hasil lebih natural

Dalam banyak situasi jurnalistik, penggunaan flash bisa mengganggu suasana, terutama dalam peristiwa sensitif seperti pemakaman, kecelakaan, atau aksi sosial. Selain itu, flash juga bisa membuat foto terlihat tidak natural.

Karena itu, fotografer jurnalistik lebih disarankan menggunakan ISO tinggi dan lensa dengan bukaan besar agar tetap bisa menangkap gambar dalam kondisi minim cahaya tanpa flash.

4. Mengenal dan Menggunakan Angle yang Tepat dalam Fotografi Jurnalistik

Low angle, eye level, high angle

Sudut pengambilan gambar (angle) sangat memengaruhi cara audiens memahami peristiwa. Low angle memberi kesan kuat dan dominan, cocok untuk memotret tokoh penting. Eye level terasa netral dan alami, sementara high angle bisa digunakan untuk memperlihatkan kerumunan atau chaos dari atas.

Dalam fotografi jurnalistik, pemilihan angle bukan soal estetika semata, tapi juga cara menyampaikan narasi. Angle bisa membentuk persepsi pembaca terhadap peristiwa yang diliput.

Dampak perspektif terhadap narasi foto

Perspektif yang kamu pilih bisa memengaruhi emosi dan persepsi. Misalnya, memotret korban bencana dari dekat dan sejajar bisa menimbulkan empati. Sebaliknya, memotret dari jauh mungkin membuat audiens merasa berjarak.

Fotografi jurnalistik yang efektif mampu memilih angle dan perspektif yang sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan tanpa menghilangkan objektivitas.

5. Timing: Menangkap Momen Tepat dalam Fotografi Jurnalistik

Antisipasi momen

Salah satu keterampilan penting dalam fotografi jurnalistik adalah kemampuan mengantisipasi momen. Kamu harus bisa membaca situasi dan memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya. Ini sangat penting dalam peristiwa yang dinamis seperti unjuk rasa atau pertandingan olahraga.

Seringkali, satu detik bisa membuat perbedaan antara foto biasa dan foto luar biasa. Maka dari itu, latihan dan kepekaan sangat dibutuhkan.

Continuous shooting mode

Gunakan mode burst (continuous shooting) untuk menangkap serangkaian gambar dalam waktu singkat. Ini membantu kamu mendapatkan pilihan momen terbaik dari beberapa frame. Biasanya dipakai saat peristiwa bergerak cepat dan tidak bisa diulang.

Teknik ini sering jadi andalan fotografer jurnalistik karena memungkinkan mereka menangkap ekspresi spontan atau kejadian mendadak.

6. Teknik Membuat Foto Bercerita (Visual Storytelling)

Foto tunggal vs. photo story

Satu foto bisa berbicara banyak, tapi kadang kamu perlu membuat rangkaian gambar (photo story) untuk menceritakan peristiwa secara utuh. Misalnya, dokumentasi pengungsian bisa diawali dengan foto evakuasi, suasana tenda, distribusi logistik, hingga momen haru di akhir.

Fotografi jurnalistik yang bercerita punya nilai lebih karena menyampaikan narasi yang utuh dan menyentuh.

Emosi dan narasi dalam satu frame

Sebuah foto bisa menyampaikan rasa takut, harapan, kemarahan, atau duka tanpa satu kata pun. Kuncinya adalah menangkap ekspresi wajah, gesture tubuh, dan elemen pendukung lain yang berbicara dengan kuat.

Latih kepekaanmu dalam menangkap momen yang menyentuh emosi. Foto seperti inilah yang sering memenangi penghargaan jurnalistik.

7. Etika dalam Fotografi Jurnalistik

Privasi subjek

Etika adalah bagian penting dalam fotografi jurnalistik. Jangan asal potret tanpa izin, terutama dalam situasi pribadi atau sensitif. Jika memotret anak-anak, korban kekerasan, atau pasien, selalu utamakan rasa hormat dan pertimbangkan dampak publikasinya.

Fotografer jurnalistik harus punya empati dan tanggung jawab moral terhadap subjek yang mereka dokumentasikan.

Foto yang menyesatkan vs. fakta visual

Mengedit foto secara berlebihan hingga mengubah makna aslinya bisa dikategorikan sebagai pelanggaran etika jurnalistik. Tugas kamu adalah menyampaikan kenyataan, bukan merekayasa cerita.

Ingat, kepercayaan publik bisa runtuh hanya karena satu foto yang menyesatkan. Pegang teguh prinsip kejujuran visual.

8. Menguasai Peralatan Dasar Fotografi Jurnalistik

Kamera DSLR/Mirrorless vs. smartphone

Untuk pemula, kamera DSLR atau mirrorless sudah cukup ideal. Keduanya punya kontrol manual dan kualitas gambar tinggi. Tapi jangan remehkan smartphone—di situasi tertentu, kamera ponsel bisa jadi senjata andalan karena praktis dan cepat.

Yang penting bukan alatnya, tapi kemampuan kamu dalam menggunakannya secara maksimal dalam situasi lapangan.

Lensa yang umum digunakan jurnalis foto

Lensa 24-70mm f/2.8 adalah lensa serbaguna yang banyak digunakan jurnalis foto karena fleksibel di berbagai kondisi. Untuk foto jarak jauh, lensa tele seperti 70-200mm sangat berguna. Sedangkan untuk suasana intim atau ruang sempit, lensa wide 16-35mm bisa jadi pilihan.

Kenali karakteristik masing-masing lensa agar kamu bisa memilih yang paling sesuai dengan situasi peliputan.

9. Teknik Editing yang Tetap Menjaga Objektivitas Gambar

Editing ringan vs. manipulasi gambar

Editing dalam fotografi jurnalistik boleh dilakukan asal tidak mengubah substansi. Misalnya, kamu boleh mengatur brightness, contrast, dan crop untuk memperjelas objek. Tapi menghapus atau menambahkan elemen tertentu adalah pelanggaran.

Prinsipnya, editing hanya untuk memperjelas, bukan memanipulasi. Selalu utamakan integritas visual.

Software yang digunakan

Beberapa software populer untuk editing foto jurnalistik antara lain Adobe Lightroom, Photoshop (untuk minor retouch), atau Snapseed untuk ponsel. Gunakan tools yang legal dan pastikan setting-nya tidak mengubah makna asli gambar.

Editing yang baik adalah yang tidak terlihat. Foto tetap terasa alami dan mencerminkan realita.

10. Cepat dan Tanggap: Kunci Sukses Fotografi Jurnalistik di Lapangan

Kesiapan alat

Di lapangan, kamu nggak punya waktu untuk bolak-balik bongkar tas kamera. Semua harus siap pakai. Baterai penuh, kartu memori kosong, dan lensa bersih adalah syarat mutlak.

Biasakan menyiapkan peralatan sejak sebelum berangkat liputan. Ini membantu kamu tetap fokus di momen penting.

Manajemen waktu dan lokasi

Fotografer jurnalistik sering berpacu dengan waktu. Kamu harus tahu kapan dan di mana peristiwa akan terjadi, serta bagaimana mencapai lokasi dengan cepat. Pelajari medan, rute alternatif, dan perkiraan cuaca agar kamu tidak ketinggalan momen.

Kecepatan dan kesiapsiagaan adalah dua hal yang membedakan fotografer biasa dengan jurnalis foto profesional.

Menguasai teknik dasar fotografi jurnalistik bukan soal punya kamera mahal atau gelar tinggi. Ini soal kepekaan, ketanggapan, dan komitmen untuk menyampaikan kebenaran lewat gambar. Dari memahami nilai berita hingga cepat di lapangan, semua teknik di atas akan membentuk kamu menjadi fotografer jurnalistik yang bisa dipercaya.

Dengan penguasaan teknik yang baik, kamu bisa mengabadikan sejarah, membangkitkan empati, dan membawa cerita yang bermakna ke hadapan publik. Jangan ragu untuk terus belajar dan berlatih, karena dunia jurnalistik selalu butuh mata-mata tajam yang jujur dan penuh semangat.

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram