Selamat datang di pelatihan Digital Banking dan Proses Audit Berbasis Risiko. Di era transformasi digital yang begitu cepat, industri perbankan menghadapi tantangan sekaligus peluang yang luar biasa besar. Perubahan perilaku nasabah, pesatnya perkembangan teknologi finansial, hingga tekanan regulasi membuat dunia perbankan tidak bisa lagi hanya mengandalkan cara konvensional. Digital banking kini bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan strategis yang menentukan daya saing sebuah institusi keuangan. Namun, di balik peluang tersebut, terdapat pula risiko yang kompleks dan dinamis. Mulai dari risiko operasional, risiko teknologi, hingga potensi fraud digital yang semakin canggih, semuanya membutuhkan perhatian serius agar stabilitas dan kepercayaan publik tetap terjaga.

Dalam konteks inilah, audit berbasis risiko atau Risk Based Audit (RBA) hadir sebagai pendekatan yang tidak hanya menilai kepatuhan, tetapi juga memetakan, menganalisis, dan mengantisipasi potensi risiko yang dapat mengganggu jalannya bisnis perbankan. Auditor dituntut untuk memahami tidak hanya aspek regulasi dan operasional, tetapi juga lanskap digital banking yang terus berkembang. Oleh karena itu, Pelatihan Digital Banking dan Proses Audit Berbasis Risiko ini termasuk dalam materi pelatihan Perbankan & Jasa Keuangan, yang dirancang untuk memberikan pemahaman komprehensif bagi para profesional audit dan praktisi perbankan agar mampu melakukan pemeriksaan yang relevan, efektif, dan adaptif terhadap dinamika digitalisasi.
Melalui pelatihan ini, peserta akan diajak untuk memahami konsep mendasar audit berbasis risiko, strategi implementasi, hingga bagaimana merancang framework audit yang tepat untuk berbagai lini, seperti audit umum, audit kredit, hingga audit IT. Selain itu, pembahasan juga mencakup faktor-faktor pendorong transformasi digital banking, regulasi yang mengiringinya, serta teknik mengidentifikasi potensi kerawanan kredit maupun fraud. Dengan bekal pengetahuan ini, diharapkan para peserta mampu mengembangkan peran auditor dari sekadar “pemeriksa” menjadi mitra strategis dalam mendukung keberlanjutan dan masa depan perbankan digital.
APA YANG AKAN ANDA PELAJARI?
- Overview dan Pemahaman Konsep Pemeriksaan oleh Auditor
- Konsep dari Risk Based Audit
- Definisi & Keuntungannya
- Prinsip Dasar
- Implementasi
- Range of Risk Based Audit Strategies
- Assurance Strategies
- Consulting Strategies
- Audit Framework for Audit Planning
- General Audit
- Credit Audit
- IT Audit
- Key Indicator of Risk Based Audit in Digital Banking
- Frequency of Auditing
- Audit Tahunan
- Scope
- Risk Assessment
- Audit Timing
- Sampling Test
- Risk Based Audit Vs Risk Management Function
- Faktor-Faktor Pemicu Transformasi Digital Banking
- Faktor-Faktor Pendukung Digital Credit dan Digital Banking
- Regulasi
- Masa Depan Perbankan
- Tata Cara melakukan Audit IT / Digital Banking
- Proses Identifikasi Kerawananan Kredit / Fraud Kredit Yang harus dapat diketahui Internal Audit
- Studi Kasus
TUJUAN & MANFAAT PELATIHAN
- Peserta pelatihan mampu meningkatkan pengetahuan peserta mengenai prinsip-prinsip Risk Based Audit
- Peserta pelatihan mampu meningkatkan kualitas serta mengembangkan kemampuan teknis peserta dalam melakukan serta melaksanakan metodologi audit berdasarkan resiko yang ada.
- Peserta pelatihan mampu memahami cara mengembangkan Kompetensi Internal Auditor dan Audit Plan Framework yang sesuai Audit Charter yang ditetapkan
- Peserta pelatihan mampu mengidentifikasi serta menjalankan tugas nya sesuai dengan guideline yang terukur dan tepat tanpa meninggalkan fungsi dan tugas auditor
TARGET PESERTA PELATIHAN
- Divisi Audit, Internal & Eksternal Auditor, Divisi Manajemen Risiko, Divisi Legal atau Kepatuhan, Divisi Operasional, Divisi Keuangan, serta divisi terkait lainnya yang berhubungan dengan proses Audit.
- Semua pihak yang ingin mempelajari pelatihan Digital Banking dan Proses Audit Berbasis Risiko
METODE PELATIHAN
- Penyampaian konsep
- Diskusi kelompok
- Latihan
- Studi kasus
JADWAL PELATIHAN DIGITAL BANKING DAN PROSES AUDIT BERBASIS RISIKO
- 8-9 Januari 2025
- 12-13 Februari 2025
- 19-20 Maret 2025
- 2-3 April 2025
- 13-14 Mei 2025
- 4-5 Juni 2025
- 9-10 Juli 2025
- 6-7 Agustus 2025
- 1-2 September 2025
- 20-21 Oktober 2025
- 19-20 November 2025
- 10-11 Desember 2025
BIAYA PELATIHAN
Pelatihan Digital Banking dan Proses Audit Berbasis Risiko Public
Biaya Public Training silahkan hubungi kami.
Durasi pelatihan : 2 hari.
Catatan :
- Harga diatas adalah harga untuk public training di Yogyakarta.
- Biaya pelatihan sudah termasuk ruang pelatihan di hotel beserta perlengkapan pelatihan, makan siang, coffee break 2x, modul materi, sertifikat, training kit dan souvenir.
- Biaya belum termasuk transportasi dan akomodasi (penginapan) peserta pelatihan.
- Biaya sudah termasuk biaya pajak.
- Untuk permintaan materi custom (yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta) atau in house training dapat menghubungi kami di sini.
Pelatihan Digital Banking dan Proses Audit Berbasis Risiko Online
Biaya Online Training silahkan hubungi kami.
Durasi pelatihan : 2 hari.
Catatan:
- Harga diatas adalah harga untuk online training.
- Pelatihan online menggunakan media Zoom Meeting atau media lainnya sesuai kebutuhan.
- Biaya pelatihan sudah termasuk Softcopy materi pelatihan, rekaman video pelatihan & Sertifikat pelatihan.
- Biaya sudah termasuk biaya pajak.
- Untuk permintaan materi custom (yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta) atau in house training dapat menghubungi kami di sini.
Digital Banking dan Proses Audit Berbasis Risiko: Strategi Efektif Meningkatkan Keamanan Perbankan Modern
Dalam satu dekade terakhir, dunia perbankan mengalami perubahan besar. Teknologi digital telah mendorong bank untuk beradaptasi dari layanan konvensional ke layanan berbasis aplikasi, internet banking, hingga mobile banking. Transformasi ini dikenal dengan istilah digital banking, yaitu sistem layanan keuangan yang memungkinkan nasabah melakukan hampir seluruh transaksi tanpa harus datang ke kantor cabang.
Perubahan ini jelas memberikan banyak kemudahan bagi masyarakat. Namun, seiring dengan meningkatnya digitalisasi, risiko yang dihadapi bank pun semakin kompleks. Serangan siber, penipuan, hingga kesalahan sistem menjadi ancaman nyata. Oleh karena itu, bank tidak hanya dituntut inovatif, tetapi juga wajib menjaga keamanan dan kepercayaan nasabah.
Pentingnya keamanan, transparansi, dan tata kelola risiko
Dalam dunia perbankan, keamanan dan transparansi adalah pondasi utama. Tanpa dua hal tersebut, layanan digital tidak akan mampu bersaing, bahkan berpotensi ditinggalkan nasabah. Inilah mengapa tata kelola risiko yang baik menjadi bagian yang tak terpisahkan dari digital banking. Dengan pengelolaan risiko yang tepat, bank bisa mencegah kerugian besar akibat fraud atau sistem yang rentan.
Audit berbasis risiko hadir sebagai salah satu strategi penting untuk memastikan transparansi. Proses audit ini memberikan gambaran menyeluruh tentang titik-titik rawan yang bisa mengancam stabilitas bank. Dengan demikian, penerapan audit bukan sekadar formalitas, melainkan kebutuhan strategis di era digital.
Peran Digital Banking dan Proses Audit Berbasis Risiko dalam membangun kepercayaan nasabah
Kepercayaan nasabah adalah aset terbesar bank. Tanpa kepercayaan, inovasi secanggih apa pun tidak akan bernilai. Digital Banking dan Proses Audit Berbasis Risiko menjadi kombinasi yang mampu menjaga kredibilitas institusi keuangan. Audit yang terstruktur akan menutup celah kerentanan, sementara digital banking menghadirkan layanan cepat, nyaman, dan aman.
Dengan sistem pengawasan berbasis risiko, bank dapat meyakinkan masyarakat bahwa data pribadi mereka terlindungi, transaksi berjalan aman, dan setiap potensi ancaman siber dapat diantisipasi. Hasil akhirnya adalah loyalitas nasabah yang semakin kuat.
Konsep Dasar Digital Banking dan Proses Audit Berbasis Risiko
Definisi Digital Banking dalam konteks perbankan modern
Digital banking dikutip dari wikipedia.org, adalah evolusi layanan keuangan dari sistem manual menjadi sistem digital. Jika sebelumnya transaksi harus dilakukan di teller, kini cukup dengan smartphone. Layanan digital banking mencakup transfer dana, pembayaran tagihan, investasi, hingga pembukaan rekening baru secara online.
Bagi generasi muda, digital banking adalah kebutuhan sehari-hari. Mereka menginginkan layanan yang cepat, fleksibel, dan tidak ribet. Bank yang gagal menyediakan hal ini akan kehilangan daya saing. Namun, digital banking bukan hanya soal teknologi, melainkan juga soal bagaimana menjaga kenyamanan dan keamanan nasabah dalam setiap transaksi.
Pengertian Proses Audit Berbasis Risiko (Risk Based Audit)
Audit berbasis risiko adalah metode pemeriksaan yang fokus pada identifikasi serta evaluasi risiko yang paling berpotensi merugikan perusahaan. Dalam konteks perbankan, audit berbasis risiko menitikberatkan pada area yang rawan, seperti keamanan sistem digital, tata kelola data, hingga pengendalian transaksi.
Berbeda dengan audit tradisional yang cenderung menyeluruh tanpa prioritas, audit berbasis risiko lebih efisien. Auditor akan menilai tingkat risiko, kemudian menentukan area mana yang harus mendapatkan perhatian lebih. Dengan cara ini, bank bisa lebih cepat mendeteksi celah keamanan dan mengantisipasi kerugian.
Hubungan antara Digital Banking dan Proses Audit Berbasis Risiko
Keduanya memiliki hubungan yang sangat erat. Digital banking membuka peluang inovasi sekaligus menghadirkan risiko baru, sementara audit berbasis risiko bertugas mengendalikan potensi ancaman tersebut. Tanpa audit, digital banking akan rentan terhadap fraud dan serangan siber. Sebaliknya, tanpa digital banking, audit berbasis risiko tidak akan memiliki objek yang relevan untuk diperiksa di era modern.
Dengan menggabungkan keduanya, bank dapat memastikan bahwa setiap inovasi digital memiliki sistem keamanan yang solid. Hal ini pada akhirnya memperkuat kepercayaan publik dan menjaga stabilitas industri keuangan.
Mengapa Digital Banking Membutuhkan Proses Audit Berbasis Risiko
Risiko operasional dalam Digital Banking
Setiap sistem digital pasti memiliki risiko operasional. Dalam digital banking, risiko ini bisa berupa gangguan server, kesalahan input data, atau kegagalan sistem saat volume transaksi meningkat. Hal-hal kecil seperti keterlambatan notifikasi juga bisa merusak pengalaman nasabah.
Audit berbasis risiko membantu bank mengidentifikasi kelemahan operasional sejak awal. Dengan analisis yang tepat, bank dapat memperbaiki sistem sebelum masalah menjadi lebih besar.
Ancaman fraud, cybercrime, dan pencucian uang
Digital banking rentan terhadap kejahatan digital. Fraud dalam bentuk phishing, malware, atau pencurian data nasabah menjadi ancaman nyata. Tidak hanya itu, pencucian uang melalui transaksi online juga semakin sulit dideteksi jika tidak ada sistem pengawasan yang memadai.
Proses audit berbasis risiko hadir untuk memetakan titik-titik rawan yang bisa dimanfaatkan pelaku kejahatan. Auditor akan menilai apakah sistem keamanan bank cukup kuat menghadapi serangan dan bagaimana alur transaksi bisa dipantau secara transparan.
Audit berbasis risiko sebagai instrumen pengendalian internal
Fungsi utama audit adalah memastikan bahwa kebijakan internal berjalan sesuai aturan. Dengan pendekatan berbasis risiko, auditor tidak hanya menilai kepatuhan, tetapi juga memproyeksikan potensi masalah di masa depan.
Audit semacam ini menjadi alat bantu manajemen dalam mengambil keputusan strategis. Misalnya, apakah sistem keamanan perlu ditingkatkan, apakah perlu investasi di teknologi baru, atau apakah pelatihan karyawan harus diperkuat.
Strategi Efektif Digital Banking dan Proses Audit Berbasis Risiko
Identifikasi risiko utama pada sistem digital banking
Langkah pertama adalah mengenali risiko. Dalam digital banking, risiko bisa berasal dari sistem, pengguna, atau pihak eksternal. Misalnya, kesalahan dalam enkripsi data, penggunaan password lemah oleh nasabah, hingga serangan hacker.
Dengan audit berbasis risiko, bank dapat memetakan ancaman tersebut secara terstruktur. Setiap risiko kemudian diberi prioritas berdasarkan tingkat dampaknya terhadap operasional bank.
Perencanaan audit berbasis risiko untuk layanan digital
Setelah risiko diidentifikasi, tahap berikutnya adalah menyusun rencana audit. Perencanaan ini meliputi penentuan area yang paling rawan, menentukan metode audit, dan menetapkan jadwal pemeriksaan.
Dalam layanan digital banking, area kritis biasanya mencakup keamanan data nasabah, keandalan sistem transaksi, dan mekanisme autentikasi. Dengan perencanaan yang matang, audit bisa berjalan lebih efisien dan tepat sasaran.
Penggunaan teknologi (AI, big data, machine learning) dalam proses audit
Teknologi kini menjadi senjata utama auditor. AI dan machine learning memungkinkan analisis transaksi dalam jumlah besar secara cepat. Big data membantu auditor mendeteksi pola yang mencurigakan, seperti transaksi berulang dalam jumlah tidak wajar.
Penggunaan teknologi ini membuat audit lebih proaktif. Alih-alih menunggu masalah muncul, auditor bisa segera memberikan peringatan dini.
Kolaborasi antara auditor, regulator, dan manajemen bank
Strategi terakhir adalah kolaborasi. Auditor tidak bisa bekerja sendirian. Mereka membutuhkan dukungan manajemen bank dan arahan dari regulator. Dengan kerja sama ini, pengawasan menjadi lebih komprehensif dan efektif.
Kolaborasi juga penting untuk memastikan bahwa hasil audit tidak hanya berhenti di laporan, tetapi benar-benar ditindaklanjuti oleh pihak bank.
Implementasi Digital Banking dan Proses Audit Berbasis Risiko di Industri Perbankan
Best practice dari bank nasional maupun internasional
Beberapa bank besar di Indonesia telah berhasil menerapkan audit berbasis risiko dalam digital banking. Misalnya, mereka menggunakan sistem deteksi fraud berbasis AI yang dapat mengidentifikasi transaksi mencurigakan dalam hitungan detik.
Di tingkat internasional, bank global sudah memanfaatkan blockchain untuk mencatat transaksi dengan transparansi tinggi. Teknologi ini membuat proses audit lebih akurat dan sulit dimanipulasi.
Tantangan implementasi dan solusi praktis
Meski menjanjikan, penerapan audit berbasis risiko tidak selalu mudah. Tantangan utama adalah keterbatasan SDM yang paham teknologi digital banking. Selain itu, biaya investasi awal juga cukup tinggi.
Namun, solusi praktis bisa ditempuh. Bank dapat menggandeng konsultan teknologi, mengadakan pelatihan internal, atau bekerja sama dengan regulator untuk menyusun standar keamanan yang jelas.
Manfaat Digital Banking dan Proses Audit Berbasis Risiko bagi Keamanan Perbankan
Meningkatkan efektivitas pengendalian risiko
Audit berbasis risiko membuat bank lebih fokus pada titik lemah yang nyata. Dengan begitu, pengendalian risiko menjadi lebih efektif dan efisien.
Memberikan perlindungan optimal bagi nasabah
Nasabah akan merasa lebih aman karena setiap transaksi diawasi dengan sistem yang ketat. Perlindungan ini meningkatkan kenyamanan sekaligus loyalitas.
Efisiensi biaya dan peningkatan produktivitas audit
Alih-alih melakukan audit secara menyeluruh yang memakan waktu, pendekatan berbasis risiko membuat proses lebih hemat biaya dan cepat.
Mendorong reputasi positif perbankan
Bank yang mampu menjaga keamanan digital banking akan mendapatkan kepercayaan lebih dari nasabah. Hal ini memperkuat reputasi di pasar.
Tantangan dalam Digital Banking dan Proses Audit Berbasis Risiko
Keterbatasan SDM auditor digital banking
Tidak semua auditor memiliki keahlian teknologi. Padahal, digital banking menuntut pemahaman mendalam tentang sistem TI.
Kebutuhan regulasi yang adaptif
Regulasi sering kali tertinggal dari inovasi teknologi. Akibatnya, ada celah hukum yang bisa dimanfaatkan pelaku kejahatan.
Kompleksitas data dan sistem keamanan siber
Volume data yang besar dalam digital banking membuat pengawasan semakin rumit. Jika tidak ditangani dengan baik, kerentanan bisa muncul kapan saja.
Resiko kesalahan analisis dalam risk-based audit
Audit berbasis risiko tetap bergantung pada kualitas analisis. Jika salah menilai risiko, hasil audit bisa menyesatkan manajemen.
Masa Depan Digital Banking dan Proses Audit Berbasis Risiko
Peran artificial intelligence dan blockchain dalam audit digital
AI akan semakin dominan dalam proses audit, terutama dalam mendeteksi pola transaksi mencurigakan. Sementara itu, blockchain memberi jaminan transparansi tinggi dalam pencatatan transaksi.
Integrasi dengan konsep ESG dan sustainability banking
Ke depan, audit tidak hanya fokus pada keamanan, tetapi juga pada keberlanjutan. Bank harus memastikan bahwa layanan digital mendukung prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).
Arah perkembangan regulasi di era digital banking global
Regulator di berbagai negara mulai menyiapkan aturan baru untuk mengimbangi perkembangan digital banking. Tujuannya adalah melindungi konsumen sekaligus menjaga stabilitas sistem keuangan.
Digital banking membawa kemudahan, tetapi juga menghadirkan tantangan besar. Tanpa pengawasan yang memadai, risiko fraud, cybercrime, dan kerugian operasional bisa meningkat. Oleh karena itu, Digital Banking dan Proses Audit Berbasis Risiko menjadi fondasi penting bagi keamanan perbankan modern.
Strategi efektif seperti identifikasi risiko, pemanfaatan teknologi, dan kolaborasi antar pihak harus terus dikembangkan. Dengan cara ini, bank tidak hanya mampu menjaga keamanan, tetapi juga membangun kepercayaan jangka panjang dengan nasabah.
